Silvia Zulaika Terinspirasi pada Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Karena Sang Ibu

Portal Sindo - Silvia Zulaika terlihat berkaca-kaca saat bercerita tentang semula ia mengambil keputusan untuk bergabung dengan organisasi sosial kemasyarakatan internasional, Lion’s Club cabang Surabaya. Ia bercerita semua diawali pada 2009 saat sang ibu yang juga anggota Lion’s Club, meninggal dunia. 

Sebelumnya itu, Silvi, panggilan akrabnya, belum tertarik untuk bergabung dengan Lion’s Club walau sudah sering menolong sang ibu dalam bebrapa aktivitas sosial yang dikerjakan beliau sejak ia muda. 

Sumber Foto Surya.co.id

Waktu itu Silvi harus membawa jenazah sang ibu dari Jakarta ke tempat tinggal barunya di Surabaya. 
Dalam perjalanan, ia pernah memikirkan bahwa ia akan kerepotan mengurus semuanya keperluan pemakaman karena belum mengetahui siapa saja di Surabaya. Tetapi nyatanya saat ia sampai di tempat tinggalnya di lokasi Citraland Surabaya, puluhan orang anggota organisasi Lion’s Club yang belum dikenalnya telah mempersiapkan semua suatu hal dengan suka-rela. 

Saat itu wanita kelahiran 1 Juni 1969 itu tercengang atas kebaikan serta empati anggota Lion’s Club pada anggota yang lain. 

Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta, Bandung, dan kota lain untuk menolong anggota yang terkena musibah. “Sejak waktu itu saya mengerti kalau Lion’s Club tidak cuma organisasi sosial namun juga kemasyarakatan, dan adalah satu keluarga yang terikat dengan erat keduanya, ” katanya pada SURYA. 

Ia yang pernah sangsi dengan organisasi itu juga mulai bergabung serta dengan aktif ikuti aktivitas sosial kemasyarakatan di dalam asumsi masyarakat yang beragam macam, sampai kemudian dipilih sebagai Presiden Lion’s Club Surabaya Kresna. 

Aktivitas sosial unggulan Lion’s Club yaitu Sight First, yakni pemberian pertolongan untuk operasi mata untuk masyarakat yg tidak mampu. Aktivitas itu di inspirasi dari perjuangan Helen Keller, pasien tuna netra yang dapat mengenyam pendidikan sampai S3. 

Konsentrasi Lion’s Club pada penglihatan, membuat organisasi sosial kemasyarakatan itu jadi satu-satunya organisasi sosial kemasyarakatan yang disadari oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merupakan organisasi tertua yang akan merayakan hari jadi ke 100 th. pada 2017. Bersama Lion’s Club, wanita asal Aceh Timur itu sudah banyak memberi manfaat serta pertolongan pada masyarakat, bukan sekedar di Surabaya tetapi juga Jawa Timur. 

“Ada pakem standard aktivitas sosial kemasyarakatan yang perlu dikerjakan oleh semuanya cabang Lion’s Club, yakni kesehatan, pemberdayaan generasi muda, lingkungan, anak dan wanita, diabetes, dan sight first (penglihatan), ” rinci Silvi. Pemberian pertolongan alat bantu dengar dan kaki palsu juga teratur dikerjakan oleh Lion’s Club Surabaya Kresna. 
Ada juga aktivitas yang melibatkan masyarakat bernama Lion’s Quest yang berbentuk edukasi untuk semuanya usia dan susunan masyarakat. 

“Selain itu kami juga teratur lakukan penanaman pohon. Beberapa waktu terakhir kami berikan juga edukasi kampung hijau organik di Mojokerto agar ibu-ibu yg tidak bekerja dapat menghasilkan sayuran organik dirumah mereka sendiri, ” tuturnya. Silvi begitu nikmati semua aktivitas sosial yang ia kerjakan, walau harus merelakan waktunya dengan keluarga. 

Kedua anak lelakinya, Harvi Kautsar Satwika (21) serta Daffa Hardika Danandjaya (13) seringkali menyindirnya ketika Silvi terlalu sering pergi ke luar kota. “Mereka suka nyindir namun juga sulit untuk di ajak pergi bareng, ” curhat Silvi. 

Libur Lebaran 2016 lantas jadi peristiwa pertama mereka bisa berlibur berbarengan satu keluarga sesudah sekian lama. Harvi yang tengah meniti studi di Australia kerapkali telah mempunyai gagasan dengan kawan-kawannya saat pulang ke Indonesia, sedang Daffa yang beranjak dewasa juga telah mulai susah untuk diajaknya pergi. 

Berlainan dengan ke-2 anak lelakinya, sang suami, Hartono Saksono Haryadi, mensupport aktivitas sosialnya bahkan juga kerapkali membantunya walau Hartono bukan anggota Lion’s Club. 

“Pada dasarnya kita sama-sama mensupport, begitu halnya anak-anak walau mereka sering memprotes karena saya sering keluar kota, ” kata Silvi. 

Akhir Agustus 2016, Silvi akan ikuti pelatihan untuk jadi trainer di Yogyakarta bersama perwakilan Lion’s Club dari semua Indonesia yang lain. 

Ia rasakan banyak manfaat yang didapat dari Lion’s Club. Mulai dari leadership, manajemen, norma, presentasi, dan terutama peka melihat kebutuhan masyarakat. 
“Meskipun banyak asumsi miring mengenai kami, yang utama kami selalu berupaya untuk memberi manfaat semampu kami tanpa ada menghiraukan omongan orang lain, ” tuturnya. (surabaya. tribunnews)